Bab 41 Buah Api-Api ( ) Membaca, berlatih seni bela diri, dan melukis. Sebulan berlalu dengan damai. Kemampuan menggambar Luffy telah meningkat secara signifikan; dia sekarang dapat menggambar hati yang sempurna dan menambahkan beberapa elemen yang mencolok. Kemajuan Uta bahkan lebih terlihat jelas. Dia menjadi lebih mahir dalam mengendalikan ekspresi wajahnya saat bernyanyi dan mulai menunjukkan kemajuan dalam menari. Aktivitas para bajak laut tidak lagi terbatas pada istana kerajaan; mereka mulai sering mengunjungi kasino dan tempat-tempat lain di kota. Di pagi hari, Luffy perlahan membuka matanya dan, secara tidak biasa, merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Lalu dia mengangkat selimut dan melihat ke bawah. Terbang tinggi! Kekuatan kegelapan sedang bangkit. Raja Gigi itu tangguh. Luffy menahan diri, memadamkan masalah Kekuatan Raja. Kemudian dia bersandar di pintu, mengambil pena dan menggambar garis horizontal, membandingkannya dengan garis sebelumnya. Dia sudah tumbuh lebih ting...
**Bab 41: Buah Api-Api**
Setelah sebulan berlalu, kehidupan para bajak laut di kerajaan itu menjalani periode damai yang membawa perubahan positif. Selama waktu ini, Luffy telah menunjukkan kemajuan pesat dalam bakat menggambarnya. Kini, ia bukan hanya mampu menggambar dengan lebih presisi, tetapi juga berhasil menciptakan gambar hati yang sempurna dengan elemen tambahan yang menarik perhatian.
Uta, di sisi lain, juga mengalami perkembangan yang signifikan. Ia menunjukkan ketangkasan yang lebih baik dalam mengendalikan ekspresi wajahnya saat bernyanyi. Selain itu, kemampuannya dalam menari semakin matang, memberi sinyal bahwa latihan yang dilakukan membuahkan hasil yang nyata.
Hidup para bajak laut tidak lagi dibatasi di dalam istana kerajaan. Mereka mulai menjelajahi kota, mengunjungi kasino dan tempat hiburan lainnya. Rasa ingin tahu dan semangat petualangan mereka membawa mereka untuk mengeksplorasi banyak hal baru.
Suatu pagi, Luffy terbangun dan merasakan adanya yang aneh dalam suasana hatinya. Setelah membuka matanya dan melihat sekeliling, intuisi itu terbukti benar. Dia mengangkat selimutnya dan merasakan kehadiran kekuatan kegelapan yang perlahan bangkit di sekitarnya. Meskipun begitu, dia menahan diri untuk tidak terpengaruh, mencoba memadamkan masalah yang disebabkan oleh Kekuatan Raja.
Dengan semangat, Luffy bersandar di pintu, mengambil pena, dan mulai menggambar garis horizontal. Ia membandingkannya dengan hasil gambarnya sebelumnya. Pertumbuhan fisiknya terlihat jelas; dia semakin tinggi dan itu membuatnya merasa senang.
Setelah bosan dengan aktivitas menggambar dan bermain, Luffy teringat pada Kakeknya, seorang praktisi Haki. Ia memutuskan waktu untuk berlatih Haki Persenjataan, suatu kekuatan yang mengizinkannya melawan pengguna Buah Iblis tipe Logia.
Dengan semangat, Luffy keluar dan sarapan sebelum menghampiri Beckman. "Beckman, bolehkah aku meminjam korek apimu?" tanyanya. Beckman, yang senang merokok cerutu, dengan segera menyerahkan korek api dengan rasa ingin tahu, "Untuk apa kau butuh ini?"
Dengan ekspresi penuh antusiasme, Luffy mencabut api dari korek itu menggunakan tangan kosong. Ia melapisi tangannya dengan Haki Persenjataan, dan yang mengejutkan, api itu dapat ia tangkap dengan aman tanpa merasakan sakit. "Itu luar biasa!" teriaknya, merasa kagum pada kemampuannya.
Beckman, terkesima dengan aksi Luffy, tidak menyangka akan melihat keahlian yang seperti itu. "Bagaimana kau bisa melakukan ini?" tanyanya dengan heran, karena seharusnya hal tersebut hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki Buah Iblis.
Luffy, dengan ekspresi ceria, berkata, "Tinju Api Jalur Luar! Ini adalah teknik terbaru yang aku ciptakan!" Sadar bahwa ia tidak dapat menciptakan api secara langsung, Luffy menjelaskan bahwa ia hanya menggunakan korek api untuk menyalakan api di senjatanya.
Setelah meluapkan kemarahan dan semangatnya, dia melatih teknik itu dengan lebih intensif, bercita-cita untuk menciptakan Tinju Api yang sejati. Beckman, yang selalu menjadi penonton yang baik, memperhatikan Luffy dan memberikan beberapa saran untuk memperbaiki cara mengendalikan api yang menyala di tinjunya.
Berusaha untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, Luffy mulai mengendalikan gerakan dan bentuk api dengan lebih presisi. Dengan pendekatan yang hati-hati, ia berlatih di tempat tinggi, melompat dari atas dinding setinggi seratus meter masuk ke dalam ruangan melalui jendela, hingga Uta yang sedang berlatih menari keheranan melihatnya.
Luffy memutuskan untuk mencari buku-buku sains yang mungkin membantunya dalam latihan. Ia mengetahui bahwa di antara para bajak laut terdapat ilmuwan, dan Luffy siap memanfaatkan pengetahuan mereka untuk mencapai tujuannya.
"Yang Mulia Raja, saya ingin beberapa buku sains," ujarnya dengan semangat kepada raja, yang sudah terbiasa dengan cara tidak biasa Luffy.
Raja, sambil menunjuk ke arah perpustakaan, memberitahu, "Perpustakaan ada di sebelah." Luffy segera berlari menuju ruangan tersebut dan tertarik pada rangkaian buku ilmiah serta komik yang berdebu di rak.
Di dalamnya, Luffy menemukan sekumpulan buku tentang fisika dan kimia yang tampaknya tidak pernah dipinjam. Dengan penuh semangat, ia mencari informasi yang relevan, dan menemukan bab yang membahas tentang energi.
Setelah membaca tentang sifat api sebagai fenomena yang dapat memancarkan cahaya dan panas, dia pun mulai bereksperimen dengan api yang ada di tangannya, berusaha untuk memadukan pengetahuan baru ini dengan kemampuan Haki Persenjataan yang dimilikinya.
Dengan usaha dan konsentrasi penuh, Luffy berusaha mengendalikan angkatannya, berpikir tentang bagaimana agar api dapat terbatasi dan terus menyala. Tidak lama, ia berhasil menciptakan ledakan kecil api yang terpantul di hadapannya.
"Tinju Api!" teriaknya dengan gembira, merasakan sensasi kepuasan dari usaha kerasnya. Seolah menemukan mainan baru, Luffy bersemangat untuk terus berlatih dan mengembangkan teknik Tinju Api-nya hingga mencapai titik sempurna.
Komentar
Posting Komentar